Tak Harus Menjadi yang Pertama

Tak harus menjadi yang pertama untuk memberinya kebahagiaan. Tak harus menjadi yang pertama yang dia beri rasa sayang. Tak harus menjadi yang pertama untuk mencintainya.

Rasa sakit yang tak tertahankan bukanlah akhir dari segalanya. Sakit memang, namun apalah artinya rasa sakit itu dibanding dengan rasa sayang yang kumiliki kepadanya. Tak sebanding rasa sakit yang tak seberapa itu. Biarlah itu menjadi kenanganku, tak seorang pun perlu merasakan apa yang kurasaka. Kau pun tak akan mungkin merasakan apa yang kurasakan. Rasa sakit itu menjadi rasa syukur saat kumelihat kau tersenyum dan tertawa, walaupun senyum dan tawa nya bukanlah untukku.

Semua yang telah kuberikan padamu, hanyalah untuk kebahagiaanmu, hanyalah untuk senyum mu, dan hanyalah untuk dirimu yang kusayang. Tak akan ada pamrih untuk semua yang telah kuberikan tersebut, aku memberikan semuanya itu tulus, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Hanya senyum mu yang dapat membayar semua pengorbanan dan perjuanganku. Namun di saat senyum itu tersirat di wajahmu, bukanlah aku yang kau tuju. Bukan aku.

Betapa tersayatnya hati ini saat melihatmu telah memiliki sebuah nama yang lain. Ingin rasanya kupeluk dirimu dan kukatakan bahwa aku menyayangimu dan aku ingin kau tersenyum padaku. Namun itu tak mungkin. Tak mungkin kulakukan itu, karena aku senang melihatmu bahagia. Aku tak ingin merusak kebahagiaanmu, sebuah rasa bimbang yang tak dapat kuingat dengan jelas. Saat dimana kuberharap bahwa kau akan tersenyum padaku, menjadikan ku yang pertama. Namun aku bukanlah yang pertama.

Walaupun aku bukan yang pertama, namun cintaku untukmu tulus. Aku akan tetap mencintaimu dan memberikan yang terbaik yang dapat kulakukan untukmu. Rasa sakit ini akan selalu kuberikan untuk dapat membuatmu bahagia. Namun sampai kapan aku dapat bertahan seperti ini. Aku akan berjuang untuk bisa menjadi yang terbaik untukmu, dengan cara apapun yang kumampu.

Semenjak awal, ku tahu bahwa aku memanglah bukan yang pertama. Saat kuberjuang untuk mendapatkanmu, aku pun bukanlah yang pertama. Saat kau menjalani hidupmu, aku bukanlah yang pertama. Dan di saat kau menjalani masa paling bahagia dalam hidupmu, aku bukanlah yang pertama. Itulah rasaku, rasa sakit yang mungkin tak seharusnya kurasakan. Mungkin aku tak akan dapat bertahan selama itu. Dan selama aku dapat berada dan bertahan di sisi mu, hanya yang terbaik yang akan kuberikan padamu. Walaupun aku bukan yang pertama, namun dirimu adalah yang pertama bagiku. Tak pernah kurasakan rasa ini, kau lah yang pertama…

Semoga kau membaca rasaku ini…

with love,

[Ank_g@]

~ by angga6688 on June 26, 2009.

3 Responses to “Tak Harus Menjadi yang Pertama”

  1. Yang pertama dan utama hanyalah DIA…
    Jika memang tak bisa menjadi yang pertama,
    berusahalah untuk menjadi yang utama…
    ^_^

  2. yup, km benar pin…
    Memang yang pertama dan utama,
    hanyalah Dia…

    Dia yang tak pernah menyakiti,
    dan membuat anak2Nya menangis dan bersedih…

  3. semua itu proses…
    ^_^
    DIA tidak hanya memberi yang baik, tapi DIA memberi yang terbaik…
    JCLU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: